Home » » Membersihkan Diri

Membersihkan Diri

Saydina Selian | 08.21 | 0 comments

Membersihkan Diri, Mulailah dari Diri dan Lingkungan


Oleh Hamim Thohari

Di sepanjang jalan Pantura (pantai utara) Jawa, mulai dari Jakarta hingga Banyuwangi (Jawa Timur), kita bisa dengan mudah mendapati masjid yang besar dan megah. Pada tujuh hari sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri lalu, semua masjid dan mushalla penuh sesak para pemudik, baik yang memanfaatkan untuk shalat atau sekadar untuk istirahat.

Apapun kepentingan mereka, kebutuhan pokoknya sama, yaitu toilet. Sayangnya, ternyata rata-rata toilet di masjid-masjid kita jauh dari kategori bersih dan indah. Sebagian besar toliet itu kotor, jorok, dan bau.

Ironi Ummat Islam


Ironis! Mengapa sebagian kita masih kurang menghargai kebersihan? Mengapa budaya bersih belum menjadi kebiasaan dalam keseharian kita?

Padahal, jika kita membuka semua kitab fiqih, akan kita dapati dalam bab pertama, sebelum membahas yang lain, adalah Bab Thaharah, bersuci. Para Ulama sepertinya sudah sepakat bahwa masalah kebersihan harus diletakkan pada urutan pertama. Ini karena kesucian dalam ibadah merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Shalat yang merupakan ibadah pokok, yang dikerjakan lima kali dalam sehari, menjadi tidak sah dan dinilai sia-sia jika tidak diawali dengan bersuci. Shalat seseorang sah dan diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) jika ia membersihkan seluruh anggota badannya, pakaiannya, dan tempat ibadahnya dari najis. Ia sendiri harus juga suci dari hadats kecil maupun hadats besar.

Lalu perhatikan isi dari doa yang dumunajatkannya seusai berwudhu: ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah pula kami sebagai orang yang bersih.”

Bayangkan, antara kenyataan dengan doa yang dimunajatkan sangat jauh berbeda. Mulut kita berkomat kamit meminta kepada Allah SWT agar dijadikan orang-orang yang bersih, sementara perilaku dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan budaya bersih.

Ironi ini tidak boleh terus berlanjut. Kita harus menghentikannya segera dengan cara menengok kembali keberadaan toilet-toilet masjid kita. Lakukan renovasi. Kalau perlu bangun toilet yang baru jika keberadaannya kurang mendukung kebersihan. Perbaiki ulang jika ada yang rusak. Lakukan pembersihan yang kontinyu jika masih kotor. Keluarkan anggaran yang ideal agar proses pembersihannya bisa ditangani secara profesional.

Budaya bersih harus kita mulai dari sini. Sebab, di tempat yang suci inilah kaum Muslimin berkumpul untuk menjalankan ibadah, terutama shalat. Di sini mereka berwudhu, juga buang hajat dan membersihkannya.

Masjid kita harus lebih bersih dari hotel. Tidak boleh lagi ada toilet masjid yang bau, kotor, dan jorok.

Bukankah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) telah mengingatkan tentang hal ini: ”Sesungguhnya banyak siksa kubur dikarenakan kencing, maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thahawi)

Bersih adalah Fitrah

Rasulullah SAW adalah teladan dan panutan kita. Beliau mengajarkan kepada kita agar senantiasa menjaga kebersihan, mulai dari mandi hingga memakai wewangian. Suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi, memakai wewangian, serta menggosok gigi pada  hari jum’at. (Riwayat Ahmad)

Bahkan, kebersihan itu beliau tetapkan sebagai fitrah keislaman kita. Ada lima fitrah kebersihan, sebagaimana beliau sabdakan:

Fitrah manusia itu ada lima, yaitu: (1) khitan, (2) mencukur rambut kemaluan, (3) menggunting (merapikan) kumis, (4) memotong kuku (tangan dan kaki), serta (5) mencabut bulu ketiak. (Riwayat Bukhari)

Islam senantiasa menekankan kepada umatnya agar selalu berpenampilan rapi dan berpakaian bersih, agar semua orang yang melihatnya menaruh simpati. Allah SWT dan Rasulnya sama sekali tidak menyukai hamba-Nya yang berpakaian kotor, lusuh, dan kusut.

Aneh jika ada Muslim yang meremehkan penampilannya, seolah mereka berkata bahwa dengan pakaian yang kumal itu mereka termasuk orang-orang yang zuhud (meningalkan kesenangan dunia dan hanya berfikir tentang akhirat saja).

Kita boleh zuhud, tapi tidak boleh berpenampilan semaunya. Kita tidak boleh berpenampilan buruk dengan rambut kusut dan pakaian kotor serta bau hanya karena alasan zuhud atau hidup sederhana. Siapa yang lebih zuhud dari Nabi SAW? Siapa yang hidup sederhana melebihi Rasulullah SAW?

Kaum muslimin tidak boleh menyederhanakan soal pakaian ini, karena soal ini telah diatur oleh al-Qur`an. Allah SWT berfirman:  Dan pakaianmu maka bersihkanlah. (Al-Mudatstsir [74]: 4)

Kalau Allah SWT telah memerintahkan kita untuk berpakain yang bersih, maka melanggarnya berarti dosa. Artinya, memakai pakaian kotor karena malas membersihkannya atau karena karakter dan budaya, maka ia termasuk dosa.

Dalam kitab al-Muwaththa’, Imam Malik menceritakan bahwa saat Rasulullah SAW berada di dalam masjid, masuklah seorang laki-laki yang rambut dan jenggotnya kusut. Nabi SAW memberi kode atau isyarat kepada orang tersebut dengan tangannya, seolah-olah Nabi SAW memerintahkan orang tersebut untuk memperbaiki rambut dan jenggotnya. Orang tersebut melakukan perintah tersebut.

Setelah ia kembali beliau berkata, ”Bukankah ini lebih baik daripada datang salah seorang di antara kamu yang kusut rambutnya, seolah-olah ia seperti setan.”

Tidak sedikit di antara kita yang gemar memanjangkan rambut juga jenggotnya tapi enggan merawatnya. Anehnya, mereka yang berperilaku seperti ini menganggap dirinya lebih ”nyunnah” (lebih sesuai dengan sunnah), padahal Rasulullah SAW menyamakan penampilan mereka itu seperti tampilan setan. Na’udzu billah!

Budaya Islam


Sebelum orang Barat mengenal mandi, umat Islam sudah menjadikan mandi sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebelum orang-orang Eropa mengenal sabun, umat Islam sudah menggunakannya setiap hari.

Sesungguhnya budaya bersih itu sudah dilakukan oleh umat Islam terdahulu, bahkan bangsa-bangsa lain dari agama lain belajar budaya bersih dari Islam. Pertanyaannya, mengapa budaya itu justru kita tinggalkan? Mengapa saat ini kita kalah bersih dengan kaum kafir?

Ya, kemiskinan dan kebodohan memang telah menjadikan kita sebagai umat terbelakang. Berbagai keunggulan yang pernah kita miliki telah beralih dan ”direbut ” oleh mereka, seolah-olah menjadi milik mereka. Padahal mereka hanyalah meniru atau mengambil milik kita. Untuk itu kita harus bangkit kembali untuk merebutnya. Kalau hari ini ada gerakan cuci tangan, sebenarnya gerakan itu sudah dilaunching Rasulullah SAW 14 abad silam.

Beliau bersabda: Barangsiapa tidur dan tangannya masih berbau atau masih ada bekas makanan dan tidak dicucinya lalu terkena sedikit gangguan penyakit kulit, maka janganlah menyalahkan kecuali kepada dirinya sendiri. (Riwayat Ibnu Hibban dan Abu Daud)

Beliau juga bersabda: Apabila seseorang bangun tidur jangan langsung memasukkan tangan ke ember (bak air) sehingga mencucuinya terlebih dahulu tiga kali. Sesungguhnya dia tidak mengetahui dimana tangannya bermalam atau di mana tangannya melayang. (Riwayat Abu Daud)

Jangan takut disebut sombong jika kita memperbaiki penampilan. Jangan khawatir disebut feminin, pesolek, atau sebutan apa saja jika kita memperhatikan kebersihan diri. Semua itu adalah sunnah Nabi SAW. Menjalankannya berarti menjalankan sunnah Nabi SAW.

Terakhir, Rasulullah SAW berpesan: Jika kamu mendatangi kawan-kawanmu, maka perbaikilah kendaraanmu dan perindahlah pakaianmu, seolah-olah kamu seperti minyak kesturi (misk) yang menjadi dambaan manusia. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang kotor atau pura-pura kotor. (Riwayat Abu Daud)

Wallahu a’lamu bish shawab ***
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger