Home » » PARADIGMA KITA

PARADIGMA KITA

Saydina Selian | 06.16 | 3comments

BERFIKIR KESERBALOGIKAAN
Pada umumnya manusia melihat hidupnya dengan sudut pandang yang rumit, semua persoalan yang dihadapinya sering menjadi beban bagi pikiran dan jiwanya. Tidak jarang pula beban tersebut membuat mereka terhimpit dalam kesedihan,kesusahan, kecewa, takut, gelisah, dan putus asa. Sehingga membuat perbuatan dan tindakannya sering lepas kendali nuraninya. Demikian dengan kemelut yang menimpa bangsa ini, begitu banyak orang yang memandang persoalan tersebut, hanya dengan pikiran logika belaka. Semua uraian di atas tentang perjalanan bangsa sejak jaman penjajahan sampai jaman sekarang semata-mata adalah penglihatan dengan sudut pandang keserbalogikaan. Seluruh mata rantainya memang saling terkait satu sama lain, menimbulkan rangkaian peristiwa yang bersinambungan. Pikiran logika membuat beragam penafsiran dan pendapatan manusia berbeda-beda, karena sudah demikian tabiatnya. Apalagi seseorang sepenuhnya menggantungkan diri kepada inderawi dan pikiran logikanya, maka kerumitan dan perbedaan akan senantiasa muncul, apalagi kerumitan dan perbedaan sudah mendominasi pertimbangannya, maka akan sulitlah dia menemukan solusi terbaiknya.

Pikiran logika akan selalu bekerja menurut azas kualitas atau hukum sebab dan akibat, bila dikaitkan dengan hukum tersebut maka apa yang terjadi pada bangsa dan rakyat, ini merupakan rangkaian akibat dari sebab dan musabah yang telah mereka perbuat sendiri di masa lampau. Namun yang hanya dipertanyakan sekarang adalah apakah semua itu semata-mata kehendak manusia sendiri, atau suatu ketetapan takdir yang tidak bisa dihindarkan. Siapa yang menghendaki Belanda datang menjajahi bangsa ini untuk sekian ratus tahun? Siapa yang menghendaki bansa ini harus hidup dalam kebodohan? Dan kenapa figur seperti Alm Bung Karno atau Soeharto yang harus memimpin bangsa ini? Kenapa baru sekarang baru terjadi perubahan ? Di saat kemajuan peradaban bangsa lain sudah melesat jauh ke depan, sementara bangsa ini masih dalam persimpangan jalan yang tidak mempunyai arah yang pasti. Kenapa figur seperti presiden Wahid dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang harus memimpin Bangsa disaat badai kesulitan datang menerpa? Kenapa bukan orang lain? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain harus dijawab, namun sebanyak itu pola jawabannya akan kandas dalam kehancuran seandainya hanya didasarkan kepada logika semata.

Alam tidak pernah bergerak dan berbuat dengan pikiran, hanya manusia sendiri satu-satunya makhluk yang melakukannya. Satu-satunya sumber gerak yang diikuti oleh alam adalah “ takdir ” dari penciptanya, sedangkan manusia tidak sama. Karena mereka mempunyai nasib dari Tuhan untuk membuat atau menolak takdirnya. Kedatangan orang-orang Belanda (V.O.C.) ke timur jauh ( Indonesia ) adalah “ takdir ” Tuhan yang tidak bisa dirubah. Akan tetapi penjajahan adalah semata-mata pilihan manusia atau keinginan Belanda sendiridan di sisi yang lain para raja yang berkuasa pada waktu itu telah memberi kesempatan bagi mereka untuk masuk dan menetap atas dasar kepentingan dan tujuan untuk meningkatkan kerja sama perdagangan di antara kedua belah pihak . demikian pula kehadiran Alm Bung Karno di belantika perjuangan politik Bangsa melawan penjajahan adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dihindarkan, namun jadinya dia sebagai pemimpin adalah semata-mata karena pilihan rakyat juga. Atau dengan kata lain adalah pilihan manasia sendiri.
Memilih tersebut bukan semata-mata karena daya kemampuan manusia, melainkan karena kuasa Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Seperti seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat menjadi pemimpinnya, dan mendapat mandat kekuasaan dari rakyat untuk memimpin, namun bisa saja dia menerima atau menolaknya. Kuasa Tuhan tersebut tiada lain adalah “ Gerakn-Nya ” yang disebut “ air atau jalan kehidupan ”. Dalam bahasa arab disebut “ Ma’I’ hayat” apabila manusia tidak mempunyai air kehidupan Tuhan dalam dirinya, makaniscaya tidak akan ada satu pun peristiwa yang bisa terjadi, manusia tidak mempunyai daya apa pun untuk bergerak dan bahkan alam semesta pun tidak akan pernah ada. Barang apa saja yang ditetetsi “ ma’I’hayat” ini akan bergerak. Darah, daging tidak akan busuk, nafas akan timbul dan sumsum berkembang mejadi semua jisim. Demiukian ini pemahaman yang pertama bagi kita.
Share this article :

3 comments:

Nashrull mengatakan...

Shahabat Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu berkata : "sekiranya Agama ini berdasarkan akal, niscaya telapak kaki lebih utama untuk dibasuh (dibersihkan) daripada punggung kaki" (ketika berwudhu)


sekedar saran..Form Komentnya..jangan dipersulit..biar mudah masuknya...

saydina mengatakan...

sukron ya akhi .....
:D..... ;)

thank's ya atasa sarannya.......

cem_ply mengatakan...

Tahank, baca-baca..Mampir balik yaa

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger