Home » »
Saydina Selian | 06.13 | 0 comments

AGAR BACA QUR’AN TIDAK SEPERTI BURUNG BEO
A. Ruhani sebagai sasaran landingnya Al-Qur’an
Sejak akhir abad 19 sampai sekarang potensi Ruhani tidak mendapatkan perhatian yang memadai , perhatian utama kita adalah otak dan nafsu. Hal ini dibuktikan dari banyaknya iklan yang ditayangkan televisi dan acara-acara yang disiarkannya, sebagian besar diperuntukkan konsumsi hawa nafsu dan sedikit untuk konsumsi otak, sedangkan untuk konsumsi ruhani jauh lebih sedikit lagi.
Acara-acara yang memiliki rating paling tinggi adalah acara-acara hiburan dan yang kedua adalah tentang makanan dan peragaan pakaian. Hal ini sudah disinyalir dalam Al-Qur’an, Allah SWT bersabda:”Orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan sebagaimana binatang ternak, dan neraka jahanam adalah tempat kembali mereka”Al-Ayat
Sekarang ini banyak kita jumpai orang pintar dan cerdas, yang dengan kecerdasannya itu umat manusia mampu mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang spektakuler, kita melihat bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memang sangat bermanfaat untuk mempermudah kehidupan umat manusia, adanya sarana-sarana telekomunikasi memudahkan manusia untuk melakukan komunikasi, sarana transportasi memudahkan manusia melakukan berbagai aktifitasnya, namun dibalik itu semua , kita juga melihat teknologi sering digunakan untuk membuat senjata-senjata pemusnah massal, korupsi trilyunan rupiah bisa dilakukan hanya dengan menggunakan kecanggihan sistim komputerisasi, jaringan narkoba sudah menjadi sindikat internasional dan berbagai tindak kejahatan lainnya.
Seandainya orang-orang yang di karuniai kecerdasan intelektual itu juga memiliki kecerdasan ruhani yang baik, tentu dia akan mamanfaatkan kepintaranya itu untuk hal-hal positif, yang mendatangkan kesejahteraan untuk orang banyak, seperti mambuat pengairan sawah dan berbagaikemajuan kemajuan dalam dunia kedokteran dan lain-lain.
Dengan ruhani yang baik, kita juga akan memiliki keyakinan yang tinggi akan keberadaan Allah SWT yang senantiasa menolong hamba-hambanya yang beriman, Allah SWT. Bersabda:”Sungguh menjadi kewajiban Allah untuk menolong orang-orang mukmin” Al-Ayat
Dengan keyakinan yang mantap akan bantuan Allah SWT. kita akan memiliki tingkat kesabaran dan rasa sukur yang tinggi, yang kedua hal tersebut sangat penting dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh ujian, hambatan dan tantangan dan ketidakpastian ini.
Menurut penelitan di Amerika serikat, 40% pengusaha muda bunuh diri karena tidak tahan menghadapi guncangan dalam bisnis dan kehidupan keluarga dan social mereka.
Kalau ingin sukses dalam kehidupan dunia, dan kehidupan Ahirat, kita harus memasang tekad bahwa peran ruhani harus di tingkat kan sehingga betul-betul dapat berperan aktif mengantarkan kehidupan yang lebih seimbang antar fisik, otak dan ruhani. DR. Muhamad Qutb menjelaskan panjang lebar tentang mendidik ketiga hal terebut dalam bukunya yang berjudul, “Manhaj Tarbiyah Islamiyah”

Kita tidak boleh membiarkan aspek ruhani tersisih, karena aspek ruhani ini yang akan menolong kita dalam menjalankan misi kekhalifan dimuka bumi ini, Allah SWT berfirman “Sesungguhnya aku menjadikan manusia dimuka bumi ini sebagai khalifah” Al-Ayat.
Sebagai orang yang beriman, kita tidak mungkin melepaskan tanggung jawab ke khalifahan yang di amanahkan Allah SWT kepada kita bagaimanapun beratnya, tanpa mengandalkan ruhani yang baik, kita merasakan bahwa jabatan menjadi khalifah ini sangat berat, karena selama ini kita hanya mengandalkan fisik dan kecanggihan otak kita semata-mata, padahal ruhani inilah yang mampu melakukan kontak dengan Allah swt, dalam pengertian menyedot haul dan quwah [kemampuan dan kekuatan] yang memungkinkan kita melakukan tugas-tugas berat yang amanahkan allah kepada kita
kita menyadari bahwa Allah maha bijaksana , tidak mungkin membebani amanah di luar kemampuan kita tanpa melengkapinya dengan alat yang memungkinkan kita berinteraksi dengan Nya dan alat itu adalah ruhani.
Untuk mengasah ketajaman aspek ruhani ini diantaranya dan membaca Al-qur’an dengan bacaan yang tartil penuh konsentrasi sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit dari padanya yaitu seperdua malam atau kurangilah dari seperdua itu sedikit ,atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al qur’an itu dengan tartil . sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu ‘’gaulan tsaqila’’
[S.AL muzzammil ;1-5].
Membaca Al-Quran secara tartil dengan pengertian membaca dengan sikap disiplin, serius, penuh konsentrasi di dukung oleh keyakinan tentang adanya suatu keperluan pokok yang dicari didalam Al-Quran untuk menjadi pedoman hidup, Allah SWT berjanji akan memberikan ”Qaulan Tsaqila“(perkataan yang berbobot/berwibawa)
Kehebatan kekuatan ruhani itu juga bisa kita lihat dalam kehidupan para sahabat Nabi Muhamad SAW. Kita melihat pula kelebihan-kelebihan yang dimiliki mereka yang dirangkum dalam sebuah buku karangan, Khalid Muhamad Khalid dengan judul “KARAKTERISTIK PERIHIDUP ENAM PULUH SHAHABAT RASULULLAH”.
Keenam puluh tokoh itu merupakan sebagian gambaran dan contoh teladan utama yang mengagumkan, kita sambut mereka sebagai pahlawan dan kesatria utama dari satu kurun terpenting diantara kurun-kurun perjuangan kemanusiaan pada umumnya dan perjuangan keagamaan pada khususnya.
Kalau kita menelusuri riwayat hidup para sahabat ini, kita akan menemukan kelebihan-kelebihan tertentu pada diri para sahabat Nabi tersebut, Kelebihan-kelebihan inilah yang terpadu menjadi satu dibawah pimpinan rasulullah SAW membentuk satu kekuatan raksasa yang akhirnya dapat mengubah peta dunia . Dari mana datangnya kekuatan itu? Tidak lain karena mereka telah berhasil memerankan potensi ruhaninya dengan baik, diantaranya lewat baca Quran yang disertai dengan penghayatan yang mendalam.
Puncak dari seluruh Kekuatan ruhani yang merupakan kebutuhan mutlaq manusia untuk menjalankan tugas kekhalifahan dimuka bumi ini adalah TAQWA . Orang yang telah mendapatkan predikat (gelar) muttaqin berarti telah tiba pada puncak keberhasilan, karena orang yang telah masuk kategori ini berarti telah berada dalam ridha ALLAH SWT. Dia telah memiliki segala sifat yang mulia, dia sangat berhati-hati dari hal-hal yang tidak diridhoi ALLAH SWT.
Dalam kehidupannya sehari-hari kita akan menemukan manusia yang sangat menyenangkan kepribadiannya dan sangat menarik penampilannya. Orang yang telah memiliki ketaqwaan tidak mau diperbudak oleh duniawi, kendatipun bukan berarti bahwa dia tidak lagi memperdulikan urusan dunia. Sebagai orang khalifah di atas permukaan bumi ini tidaklah dibenarkan jika berpaling dari tanggung jawab mengurus dunia.
Orang yang memiliki ketaqwaan tidak sama dengan orang lain didalam mengkelola dunia. Semua pekerjaan yang ditanganinya motivasinya mencari ridho Allah SWT. Dia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, tapi hanya sebagai sarana untuk menjalankan misi hidupnya yakni menjadi Abdullah dan khalifah-Nya.
Inilah buah dari pada TAQWA, dan inilah yang dimiliki Rasulullah bersama sahabat-sahabat beliau. Rosulullah SAW bersabda, “Aku di dunia ini hanya bagaikan seorang yang bepergian, lalu berhenti sejenak bernaung dibawah pohon kemudian pergi lagi meninggalkannya “ (H. R. Tirmidzi).
Sebagai pemimpin umat, yang mewarnai kehidupan Rasulullah sehari-hari adalah kesederhanaan, suatu hari pernah Rasulullah SAW mengunjungi rumah fatimah, anak kesayangan beliau, istri, sahabat utama Ali bin Abi tholib, apa yang terjadi dirumah itu? Lama sekali Rasulullah mengetuk pintu, baru ada jawaban dari dalam. Fatimah cukup mengenal suara ketukan itu tetapi khawatir kalau ada orang lain yang menyertai beliau sementara keadaan tubuh fatimah tidak pantas dilihat oleh yang bukan mukhrimnya pakaian fatimah tidak cukup untuk menutupi auratnya lama sekali baru ada suara dari dalam :”siapa diluar? ”saya Rasullulah”, ”apakah Rasullulah sendirian atau berteman dengan orang lain?” “sendirian saja, kenapa wahai anakku?” “aurat saya dalam keadaan terbuka wahai Rasululalh, tidak cukup pakaian di rumah ini untuk menutupinya secara sempurna”. Rasulullah SAW hanya memberi nasihat untuk bersabar.
Padahal mudah bagi Rasulullah SAW seandainya beliau ingin memiliki kekayaan duniawi, tidak seorang pun akan menegur kalau beliau menyisihkan sebagian harta ghanimah yang diperoleh dalam peperangan untuk kepentingan pribadi beliau dan keluarganya. Sangat berbeda dengan pemimpin-pemimpin sekarang ini yang menjadikan jabatannya sebagai sarana untuk memperkaya diri, Nauzubillahi min zalik
Hakekat kebutuhan manusia
Yang jelas bahwa semua perintah dan larangan, semua itu hukum dan peraturan yang telah di buat oleh ALLAH SWT adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. wahyu pertama: yakni surat Al-Alaq ayat 1-5,yang memberikan perintah kepada kita untuk membaca diri kita, dengan satu target supaya dengan prosess membaca itu, kita dapat mengenal ALLAH SWT.
Berbagai macam usaha dan perjuangan yang kita tempuh untuk mendapatkan ini dan mengumpulkan itu, meraih ini dan menggondol itu, mengejar ini dan menguber itu. Kenapa kepuasaan tak kunjung-kujung datang, Apa sebenarnya kita butuhkan? ALLAH SWT tahu persis apa sesungguhnya apa yang kita perlukan. Kebutuhan kita yang paling mutlaq sebenarnya bukan rumah besar bukan istri yang cantik. Bukan makanan yang lezat, bukan pangkat dan jabatan yang tinggi. Kebutuhan kita yang sesungguhnya adalah: ”ingin kenal dengan Allah SWT”.
Perlu kita sadari bahwa didalam tubuh kita terdapat potensi 3Dimensi:
· Dimensi jasmaniah –lahiriah, yang terdiri dari pada indera.
· Dimensi akal dan nafsu
· Dimensi ruh. Inilah yang paling imperative (kuasa) didalam diri kita.
Jasmani, karena terbuat dari tanah (fisik), maka ia butuh kepada makanan yang berasal dari unsur fisik seperti tanah, api, air, dan udara.
Nafsu, lain pula kebutuhanya. Nafsu inilah yang menginginkan penghormatan, yang memerlukan penghargaan, ujian,yang ambisi, egois, serakah, tamak, lobah, ingin menguasai materi sebanyak-banyaknya.
Ruhani hakekatnya merupakan tiupan dari Nur Allah, maka kebutuhanya hanya sati: ingin menatap wajah Tuhan-Nya, merindukan Ridha Nya. Selama kebutuhan ini tak terpenuhi ,rumah besar apapun yang dimilikinya, tidak akan mendatangkan kepuasan. Kendatipun seluruh manusia yang ada di dunia ini memberikan sanjungan dan penghormatan, bintang-bintang pundaknya, tanda-tanda jasa melengket di dalamnya, pengawal selalu siap di belakangnya, segala fasilitas ada di tangannya, tidak akan memuaskannya.
Disitulah kita akan menjumpai manusia di tengah-tengah menumpukan hartanya, manusia yang merana kendatipun dalam kemewahannya, manusia yang kesepian di tengah-tengah keramaian, yang senantiasa dalam ketakutan kendatipun ia dikawal oleh sekian banyak pengawal keamanan, yang selalu merasa miskin padahal dia kaya raya. Sebaliknya kalau seseorang sudah mengenal Allah SWT. segala kebutuhan telah terpenuhi, nafsu bisa ditundukkan.
Inilah kajian awal yang akan mengantar kita untuk mengenal ALLAH.wajar kalau Ulama mengatakan bahwa yang pertama wajib diketahui oleh manusia ialah ALLAH SWT, mema`rifati ALLAH secara benar.
Imam Al-Ghazali setelah bertahun-tahun menjadi rektor pada salah satu perguruan tinggi di Baghdad yang kalau dibandingkan sekarang jabatan itu setingkat menteri. Beliau mengoreksi dirinya, apa yang sebenarnya saya tidak punyai , apa sebenarnya yang belum saya miliki. Saya sudah menjabat sebagai menteri. Rumah dan segala perabot sudah cukup, gaji dan jaminan sudah lebih dari cukup, nama yang cukup tenar dan popular dengan kedudukan sebagai Ulama da rector, tetapi kenapa saya senantiasa gelisah,
Hal itu dihadapkan kepada ALLAH.tolong kami ya ALLAH kalau ini semua menjadi penghalang, hindarkan kami dari itu semua. Do`a beliau dikabulkan Allah SWT. kurang lebih enam bulan menggeliat di pembaringan. Tidak tahu apa yang beliau harus lakukuan. Beliau sedang berada dalam puncak kegelisahan yang tidak terbahasakan. Selama dipembaringan itu beliau mengimbangi kegelisahannya dengan munajat dan menjerit meminta perkenaan TUHAN memberikan secerah hidayah.
Akhirnya beliau diberikan TUHAN penyakit yang cukup parah selama dua bulan. Beliau tidak bisa ngomong, perut tidak mampu mencerna makanan.selama dua bulan beliau tidak bisa makan dan berbicara. Setelah intelektual, otak dan fikiran imam Ghazali sampai pada titik keputusasaan, barulah beliaumerasakan ada sesuatu yang membias begitu sejuk dalam dirinya yang dia sendiri tidak tahu apa itu sebenarnya.
Setelah beliau sembuh dari penyakitnya selama dua bulan itui beliau segera meletakan jabatan , pekerjaannya di tinggalkan, kemudian beliau berangkat ke menara satu masjid, tinggal selama sambil menulis kitab “Ihya’ Ulumudin” beliau sepuluh tahun tinggal disana.
Kalau kita hitung, berapa prosen waktu yang kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan rohaniyah ketimbang waktu yang kita gunakanm untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan nafsu.
Bukankah kerap kali terjadi atas diri kita kalau selsesai membaca tasbih, tahmid, takbir, masing-masing tiga puluh kali, dan membaca istighfar, sering kita tidak sempat, disebabkan karena bayangan makanan telah membayangi sejak takbir pertama. Fikiran sempat nyelonong kepada ikan bakar yang bakal disikat kucing. Ini hanya contoh kecil.
Bukan tidak sering kita menunda shalat karena tuntutan nafsu dalam rangka mendapatkan kemegahan, kebesaran dan kemewahan. Akhirnya kitapun berada dalam lingkaran syetan dimana kita terus menerus dalam keresahan, tidak kunjung-kunjung bisa tenang, yang sudah menteri ingin jadi presiden.
Maka jalan yang paling efektif untuk mengurangi peran nafsu yang terlalu dominan dalam kehidupan kita adalah kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an, Bukankah nafsu bahkan alam semesta adalah ciptaan Allah SWT, dan Allah SWT sudah menyiapkan “Handbook” untuk mengelolanya yakni Al-Qur,an?
Sayyid Qutb dalam pembukaan tafsir “Fidhilalil Qur’an menulis’ ketika aku berinteraksi dengan Al-Qur’an, aku merasa seolah Allah SWT berdialog dengan aku lewat Al-Qur’an, padahal aku adalah makhluk yang dhoif yang diciptakan-Nya, adakah kemuliaan yang melebihi hal ini?


Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger