Home » » Berharap pada Guru " Kehidupan"

Berharap pada Guru " Kehidupan"

Saydina Selian | 16.29 | 0 comments
Hampir setiap pergantian kepemimpinan di Departemen Pendidikan, pemerintah disibukkan dengan berubahnya peraturan pendidikan. Baik menyangkut kurikulum maupun pada setiap regulasi yang sekecil-kecilnya. Arah kebijakan pendidikan nasional berupa anggaran pendidikan dan penyempurnaan sistem pendidikan nasional rasanya saat ini belum menemukan titik kesempurnaan.Pemerintah Indonesia kurang berani memprioritaskan anggaran pendidikan yang cukup untuk mengembangkan pendidikan. Kita makin jauh tertinggal dari Malaysia dan Singapura. 

 
Pada tataran sistem pendidikan, pemerintah masih disibukkan dengan standardisasi, kurikulum, UN, kompetensi guru, dan masalah lainnya. Di sisi lain,
para guru "menjerit dalam hati" meminta keadilan tentang kesejahteraan mereka
yang selama ini terabaikan. Tidak hanya itu, kualitas para guru juga patut di
pertanyakan. Karena ketergantungan terhadap sistem lama yang kurang
memuaskan perihal peningkatan kemampuan guru. Baik dalam mengajar
maupun aspek pengetahuan dirinya sendiri.

Guru adalah sosok yang dianggap oleh murid sebagai seseorang yang serbatahu,
sebagai seseorang yang patut dicontoh, dan cerminan murid dalam melakukan
beragam tindakan. karena itu, guru memiliki tanggung jawab sosial, sehingga
peran dan fungsinya sangat dibutuhkan dalam menjalankan estafet perjuangan
bangsa. Walaupun sebetulnya tidak sepenuhnya guru serba tahu dan mengerti
segala-galanya. Selama ini kita selalu berkutat pada masalah kesejahteraan guru
dan kurikulum pendidikan. Dua wilayah ini memang membingungkan. Pada satu
sisi, para guru terlantar dan sulit mendapatkan kesejahteraan, di sisi lain mereka
harus bertindak profesional. Tidak meninggalkan pekerjaan mengajar yang
seharusnya menjadi tugas utama mereka.

Pengamat pendidikan, Hernowo, mencatat bahwa apakah benar dengan
meningkatkan gaji guru, para guru lantas benar-benar berdaya? Karena
perkembangan diri seseorang itu berangkat dari dirinya sendiri, bukan orang lain.

Pihak lain hanya memberikan rangsangan, tapi tindakan itu datang dari diri guru
itu sendiri.
Bukan hanya guru, setiap manusia mengalami keadaan yang sama seperti itu.
Bahkan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak
mengubah diri mereka sendiri. Kesadaran untuk melakukan perubahan terhadap
diri seorang guru harus tertanam, sehingga guru tidak hanya sekadar
mengajarkan kepada murid, tapi ia tampil sebagai sang inovator yang inovatif
dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sehingga, guru tidak hanya berkutat
pada buku atau text book, tapi dapat mengemas semuanya menjadi suatu
pembelajaran yang menarik.

Terjebaknya para guru dengan hanya mengandalkan kurikulum, juga memilik
dampak yang serius dalam mengelola pendidikan Indonesia. Persoalan kurikulum
seolah-olah tidak ada habisnya. Setiap tahun kurikulum bisa saja berubah, tapi
apakah pengetahuan anak dapat diharapkan mampu dalam menjawab semua
tantangan yang ada, jika tidak di mbangi dengan kemampuan guru dalam
mengelola kelasnya. Kreativitas guru dalam mengelola kelas sangat membantu
pemahaman murid dalam memahami sesuatu hal.

Ruang kelas hanyalah tempat singgah sementara, karena peran lebih besar
adalah ketika anak-anak berada di luar kelas. Anak-anak lebih banyak
bersentuhan dengan dunia luar kelas, sehingga pengalaman, pengetahuan, dan
aspek pembelajaran mereka lebih banyak didapatkan dari aktivitas yang tanpa
sengaja dilakukan atau dengan bermain-main dengan teman-teman lainnya.
Ruang kelas hanyalah tempat untuk mengevaluasi dan proyeksi ke depan, atau
lebih kepada penekanan atas apa yang mereka dapatkan di rumah, lingkungan
sekitar, atau di sekolah sekalipun. Karena, dengan interaksi yang dilakukan
dengan sesama teman lebih memudahkan mereka untuk memahami kondisi
yang ada.

Idealnya, para guru adalah sahabat para murid, yang memberikan jawaban apa
yang seharusnya anak-anak dapatkan ketika mereka belajar dan berinteraksi
dengan yang lainnya. Sehingga, guru menjadi partner dalam mempelajari
kehidupan. Ia belajar bagaimana menjalani kehidupan, bukan mempelajari
kurikulum semata tapi luas dari pada itu. Ia tidak diperdaya, tapi mampu
memberdayakan dirinya tentang bagaimana mengajar dan belajar, penguasaan
emosi, kemampuan membaca dan menulis, serta menjadi sang motivator ulung.

Hernowo menggaris bawahi tentang apa yang dimaksud dengan "guru
kehidupan" dan "guru kurikulum". "Guru kehidupan" benar-benar mau dan
mampu mengajarkan sesuatu yang bermakna. Dan, makna yang diajarkan itu
bukan merupakan "makna yang dirumuskan" sebagaimana yang sering diajarkan



oleh "guru kurikulum".  Guru kehidupan lebih menekankan untuk mengajarkan
"makna yang dihayati", yaitu makna yang tidak sekadar tercantum di kurikulum
atau buku, tetapi makna yang bersentuhan dengan kehidupan sejati.
Saatnya kita menyadari bahwa di sekolah anak-anak semestinya tidak hanya
mempelajari tentang pengetahuan, tapi juga belajar tentang kehidupan.
Mungkin, frame tentang ini yang belum tersosialisasikan kepada masyarakat,
sehingga orang tua murid juga belum memahami sepenuhnya tentang arti
sekolah yang seharusnya. Namun pada sisi lain, banyak orang tua yang
memprotes tentang sistem pendidikan yang mengabaikan moral, anak didik kita
bina untuk mengerti sopan santun, berakhlak mulia dan mampu
mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Yang menjadi persoalan, penganggapan guru sebagai seorang yang serbatahu
dan anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk dididik, sedangkan di
dalam ruang terkecil, yakni keluarga, anak terlepas dari pengawasan orang tua.
Seharusnya, orang tua murid adalah guru pertama bagi sang anak, yang
mencurahkan waktu lebih banyak terhadap anak. Guru di sekolah adalah guru
kedua, yang membantu sang orang tua untuk mendidik anak-anaknya sehingga
mereka mampu mempelajari semua persoalan yang ada dari sudut pandang
mereka sebagai seorang yang terdidik.
Mempelajari kehidupan lebih sulit daripada mempelajari pengetahuan. Maka, kini
kita butuh guru kehidupan, yang membimbing para murid menuju pengetahuan
yang lebih luas tentang kehidupan, baik dari aspek pribadi maupun aspek sosial.
Memahami dirinya baik sebagai aku diri, aku ideal dan aku sosial. Tidak
melepaskan diri dari pergaulan inteligensia, baik dengan memperluas wawasan
akademis (IQ), emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (ESQ). Karena, pada
dasarnya setiap sekolah memiliki ciri yang beda dan guru yang mempunyai
pengajaran yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukan persoalan ketika kita memiliki keinginan dan kemauan untuk mengajarkan dan menjadi "guru
kehidupan". Tidak hanya bagi anak murid, tetapi bagi siapapun dia yang menjad
tanggung jawab kemanusaiaan kita.
sumber : Lampung Post, Kamis, 3 Mei 2007 


Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger