Home » » Menyembah dengan Maksud Menghormat

Menyembah dengan Maksud Menghormat

Saydina Selian | 18.43 | 0 comments
Apakah diperbolehkan menurut Islam kita menyembah orangtua semata-mata dengan maksud menghormat seperti dengan cara berlutut (sungkem) dan menepuk dua belah tangan diangkat ke ujung hidung?

fatawa
Menghormat dengan cara menyembah seperli yang ditanyakan penanya itu sudah bercorak keagamaan, seperti penyembahan kepada dewa, berhala atau penguasa yang dipuja. Sembah jongkok, sembah bongkok, sembah ruku atau sujud dengan mencium lutut dan sebagainya itu berlaku pada masyarakat feodalis dan penganut agama polytheis serta alam takhayul dan khurafat. Karena kehilangan akal dan iman, orang lalu takut dan mengharap yang gaib dari manusia yang dipuja seperti uskup, pendeta, habib keramat, mbah sakti dan lain-lain sebagainya.
Awal abad ke-20, Syarikat Islam, Al-Irsyad dan Muhammadiyyah merintis jalan memberantas penyembahan feodalisme ini, sekaligus mencabik-cabik gelar-gelar feodalis dan mencampakkannya ke keranjang sampah, dalam rangka melepas belenggu masyarakat awam dari perhambaan berkedok agama dan memberi harga diri kepada masyarakat yang tengah dibelenggu kolonialis Belanda.

Seseorang telah bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, seorang dari kami bertemu saudaranya (kawannya). Apakah dia harus membungkuk? Dijawab, "Jangan!"

"Apakah dia harus memeluknya?"

"Jangan!"

"Apakah dia harus berjabatan tangan?" Dijawab, "Ya!"

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al-Fatawa Juz I halaman 116, antara lain menulis: Sesungguhnya mencium tangan dan menundukkan kepala dan sebagainya yang menyerupai sujud yang sering dikerjakan untuk menghormati para ulama atau para pembesar dan raja-raja tidak diperbolehkan, malah dilarang juga berjongkok yang menyerupai ruku' sebagaimana yang telah tercakup dalam jawaban Rasulullah saw kepada seorang penanya:     "Janganlah membungkuk."

Ketika Muadz kembali dari negeri Syam, dia menemui Rasulullah saw dan bermaksud untuk bersujud kepadanya. Beliau bertanya, "Apa ini, Muadz?" Muadz menjawab, "Aku melihat kaum Nasrani di negeri Syam berlutut untuk uskup-uskup mereka. Menurut keterangan mereka, cara demikian dipandang perlu untuk para Nabi mereka." Maka Rasulullah saw menjawab, "Mereka dusta! Seandainya aku hendak memerintah atau boleh memerintah orang untuk bersujud, pastilah aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami. Hai, Muadz! Tidaklah diperbolehkan orang bersujud selain kepada Allah Yang Maha Esa."

Islam telah menentukan cara penghormatan yang khusus, yaitu dengan mengucapkan: "Assalamu'alaikum warahmatullaaahi wa barakaatuh!

Ucapan ini sebagai salam penghormatan, mengandung doa agar Tuhan memberi keselamatan, rahmat dan kesejahteraan serta kebahagiaan kepada orang yang dihormati itu. Rasulullah saw bersabda:

1.   Ya, Anas! Apabila engkau berkunjung ke keluargamu, ucapkanlah "as-salam", karena "as-salam" itu akan membawa berkah bagimu dan bagi keluargamu. Sedang Allah SWT berfirman pada surah an-Nuur ayat 61: "Maka apabila kamu memasuki rumah, hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya (yang juga berarti memberi salam kepada dirimu sendiri), salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (hukum-hukumNya) bagimu, agar kamu memahaminya.

2.    "Demi Dzat yang menguasai jiwaku, tidak akan kamu masuk surga hingga kamu saling mencintai dan berkasih sayang. Maka ada baiknya kalau aku tunjukkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu kerjakan niscaya kamu saling cinta-mencintai, yaitu siarkanlah salam di antara kamu," (HR Muslim).

Firman-Nya dalam surah an-Nisaa' ayat 86: "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu."

3.    "Orang berkendaraan harus memberi salam lebih dahulu kepada orang yang berjalan kaki. Yang berjalan kaki kepada yang duduk. Dan jamaah yang sedikit memberi salam kepada jamaah yang lebih banyak," (HR Bukhari dan Muslim).

4.    "Jika seorang dari kamu masuk ke tempat jamaah berkumpul, ucapkanlah salam, begitu pula kalau hendak keluar. Sesungguhnya salam penghormatan tak lebih utama dari salam penghormatan kedua," (HR Bukhari).

5.    "Termasuk dari penyempurnaan salam ialah menjabat tangan saudaramu," (HR Bukhari).
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger