Home » » Jujur Kunci Keluasan Rezeki

Jujur Kunci Keluasan Rezeki

Saydina Selian | 00.17 | 0 comments

Demi kebahagiaan anak, banyak orang banting tulang mencari rezeki dengan tidak mengindahkan syariat Allah

Globalisasi memang memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia modern. Jarak ribuan kilometer, bahkan antarbenua pun, kini bukan lagi satu masalah besar. Kapan dan di mana pun antara satu orang dengan orang yang lain dapat berkomunikasi dengan sangat cepat.

Akan tetapi perlu disadari bahwa globalisasi juga memiliki satu sisi yang perlu diwaspadai. Jika umat Islam gagal mewaspadai sisi ini, bisa dipastikan globalisasi akan menjadi virus yang mematikan. Sebab globalisasi juga membawa satu pemahaman yang tidak saja keliru tapi membahayakan terkait dengan kesehatan ruhani umat Islam, utamanya konsep tentang rezeki. Demikian disampaikan  penulis buku  best seller "Mencerdaskan Anak Mulai Dari Kandungan", Suharsono  dalam acara talkshow parenting di Kompleks Pesona Kayangan Depok, Jawa Barat.

“Dalam Islam rezeki tidak sebatas pada ranah materi, tapi juga nonmateri yang menjadi substansi manusia itu sendiri (ruhani). Jika rezeki dipahami sebatas pada harta, uang, dan kenyamanan-kenyamanan kehidupan tanpa mengindahkan hukum-hukum Allah, bisa dipastikan iman akan redup, bahkan padam dalam diri seorang muslim,”  ujarnya.

Suharsono  menjelaskan bahwa dalam pandangan hidup orang kafir, bertambahnya materi, baik dalam bentuk uang, kekayaan bergerak maupun tidak bergerak, menjadi satu standar rezeki mereka. Untuk itu berbagai cara yang tidak halal pun dilakukan mereka. Tetapi dalam Islam, penambahan harta tidak selalu bertanda bertambahnya kebaikan pada diri seorang muslim, jika tidak mengindahkan syariah Allah SWT.

“Riba itu kan enak dan sepintas menguntungkan karena uang yang dipinjamkan bisa produktif. Uang kita terus bertambah. Semakin lama masa pelunasan, makin besar bunga yang diterima. Tetapi dalam Islam, riba itu dosa besar, bahkan Allah umpamakan mereka yang makan riba ini seperti orang yang menelan bara api,” jelasnya.

Jika keluarga kita diberi makan dari penghasilan riba, bisa jadi kita akan sulit untuk memiliki keberkahan dalam hidup kita, bahkan putra-putri kita nantinya.

Masyarakat modern telah terjebak pada satu keadaan yang disebut dengan ilusi cosmic, yakni suatu keadaan yang mendorong untuk terus berharap yang lebih. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan satu konsep yang sangat menyesatkan bahwa sumber daya alam terbatas dan kebutuhan manusia tidak terbatas.

“Hal ini yang mendorong banyak manusia saat ini yang membabi buta menghabiskan waktunya semata-mata untuk mencari uang. Dalam pikirannya, kalau bisa uang yang dimiliki tidak saja cukup bagi dia, tapi bagi anak, cucu, cicit, dan seterusnya. Pada saat yang sama ibadah, mu’ammalah dan akhlak sering diabaikan. Kondisi inilah yang mendorong seorang manusia sering menyalahgunakan amanahnya. Akibatnya korupsi pun marak terjadi dan dianggap lumrah,” jelasnya.

Menurut bapak sepuluh anak ini, padahal kebahagiaan dan rezeki yang sebenarnya itu hanya bisa diraih dengan kejujuran. Tanpa kejujuran orang akan sengsara dan selalu ditimpa kegelisahan yang tak berujung bertepi.

“Jangan coba-coba mencari nafkah dengan cara yang haram. Karena itu tidak saja mengundang kemarahan Allah, tapi juga akan menyengsarakan kehidupan kita di akhirat. Demikian pula dengan kehidupan anak-anak kita. Hanya kejujuran yang akan menyehatkan ruhani kita dan mendatangkan rezeki yang akan selalu diberkahi Allah SWT,”
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSAN KAMIL - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger